Kisah Perkenalan Teman yang Tak di inginkan


            Aku tak pernah menginginkan perkenalan ini, gelisah mewarnai pagi itu ketika membuka BBM dari seorang teman dan sekaligus masih saudara jauh denganku ,aku takut akan mengahancurkan semuanya dan membuat Aldi kecawa terhadapku. Matahari sudah beranjak dari tempatnya terbit namun aku masih saja ingin memanjakan tubuhku terbaring dikasur, dengan mata masih sayub kubuka handphone dan melihat ada beberapa BBM masuk. Hanya satu BBM yang membuatku tertegun menatap dan membaca isinya “say mau enggak aku kenalin sama temanku?”. Kenalan, satu kata yang membuatku kelimpungan diam tak berkutik karena ketidak berdayaanku untuk menolak. Dengan hati sedikit terpaksa kubalas saja “iya, boleh”. Dengan ketusnya aku memperkenalkan diri, namun dia tetap saja bersikap sopan terhadapku. Ada yang aneh dari perkenalan ini, perkenalan yang tidak biasa aku jumpai dikebanyakan orang pada umumnya.
 Baca Juga Coretan

Setelah perkenalan itu tidak ada kontak sama sekali dengannya, dan karena aku juga orangnya tidak begitu suka dikenal-kenalin jadinya cuek aja, apalagi belum melihat orangnya langsung. Sesekali dia ngePing, ya tentu saja aku membalasnya. Hingga seminggu kemudian kita mengadakan pertemuan. Pertempuan yang sempat gagal karena aku masih belum siap dengan perasaan yang campur aduk, tapi karena aku ada perasaan enggak enak akhirnya mengiyakan untuk bertemu. Tepat setelah Magrib kita bertemu di tongkrongan coffe. Itupun tidak hanya berdua, aku mengajak serta temanku karena dia yang memperkenalkan kita berdua. Kesan kali pertama bertemu dag dig dug, tapi seiring canda tawa menghiasinya perbincangan kita rasanya sudah biasa aja. Satu hal yang mengejutkan, temanku tiba-tiba menyuruh kita foto berdua. Benar-benar buatku mati kutu dan dengan terpaksa kita foto bersama. Kembali menjalani rutinitasku,kerja kuliah kerja lagi begitulah kira-kira keseharianku. Disuatu malam yang tak pernah kuduga bahkan untuk berharap pun tidak. Aku sedang bekerja dan seperti biasanya main game,sosmed dan youtube dengan komputer tersayang yang setahun belakangan ini selalu jadi pacar andalanku, sewaktu duduk ada pelanggan tapi nunggu temannya dulu ku jawab saja “ iya, tidak apa-apa” aku kembali sibuk memainkan mouse dan tiba-tiba saja pelanggan itu berdiri dan membuka jaketnya tertera nama “A L D I” dia juga meninggal sekantong plastik snack dan pergi keluar, sontak aku kaget dan sedikit familiar dengan nama itu dan kukejar dia keluar sampai akhirnya aku sedikit histeris dengan kejutan yang dia buat, kuajak dia masuk dan kita ngobrol-ngobrol meski sedikit tersipu malu. Itu kali pertama aku mendapat kejutan yang membuat aku exiteddan mungkin tak kan pernah melupakannnya. Kejadian seperti itu tidak hanya sekali, bahkan dia berkali-kali main ketempat kerjaku begitu perhatian hingga buat hatiku luluh dengan segala perhatiannya. Hari demi hari kita semakin dekat, mulai ada pembicaraan yang membuat satu sama lain menjadi nyaman. Disinilah yang aku takutkan, karena akupun mulai menyukainya. Setiap kali jantungku berdebar karnanya saat itulah hati kecilku mulai berbisik bahwa nantinya aku akan menyakiti dan membuatnya kecewa. Entah apa yang membuat kita bertengkar diakhir chat, kita selalu memperdebatkan hal yang sama setiap hari tidak lain adalah tentang hubungan kita, kita sama-sama tahu bahwa saling suka satu sama lain dan kita juga sama-sama trauma tersakiti dimasa lalu dan karena hal itu kita memutuskan untuk berteman. Meski sudah ada pembicaraan seperti itu tetap saja kita tak mampu menahan gejolak asmara yang berujung pada pertemuan kedua kita. Pertemuan kedua adalah pertemuan dimana kita menikmati saat-saat berdua, makan nonton sama seperti anak-anak muda pada umumnya. Setelah itu entah apa yang membuat hubungan kita tak selengket perangko dengan amplop lagi, hubungan yang mulai memudar bak warna yang terpapar sinar matahari. Kegundahan mulai menyambangi hatiku, seperti ada yang hilang begitu menyakitkan dan walau bagaimanapun aku harus menghadapi keadaan ini. Sejak awal seharusnya aku harus mempersiapkan diri untuk hal semacam ini, tapi apa daya menghadapi hati yang tengah bergejolak. Saat – saat hubungan mulai renggang, aku mulai menata hatiku kembali menguatkan diri sendiri untuk tegar menghadapi apa yang telah aku mulai. Dititik inilah aku seolah berhenti ditempat dan berbalik arah, memulai lagi dengan kesendirianku dan kesibukan yang selama ini telah aku lakoni. Dipenghujung tahun 2009, di bulan inilah kita sudah tidak ada komunikasi lagi bahkan ditahun barupun tak ada kabar darinya. Hingga pada tanggal 2 Januari 2010 saat-saat terakhirku kerja tiba-tiba dia mengajak aku jalan, kaget bingung seolah ada hembusan angin segar dalam diri ini ketika membaca pesan singkat yang dia kirim. “besok jalan yuk....” tulisnya, “boleh” jawabku Hari itu sampai keesokan harinya komunikasi kita masih baik-baik saja, bahkan setelah kita pulang dari jalan-jalan kita pun masih baik hingga suatu sore yang tak pernah ku sangka dan tak pernah kuduga seperti diterjang angin topan begitu cepat semua hancur lebur. Entah apa yang membuatnya begitu terhadapku, aku yang memang sejak awal telah mengatakan bahwa “meskipun aku tahu kita sama-sama memiliki rasa yang sama, aku hanya ingin berteman. Karena aku masih belum siap untuk itu, dan aku juga masih disibukkan dengan kuliahku” dan kitapun telah sepakat untuk itu. Bahkan perasaankupun berangsur memudar seiring berjalannya waktu, tak pernah terbesit lagi dalam benakku bahwa aku ingin pacaran dan masih mengaharpkan dia. Tapi sore itu dia kembali menegaskan bahwa kita hanya berteman saja, dan setelah menjalani pertemanan ini dia merasa ada yang tidak cocok denganku seketika aku tersenyum sinis membaca kalimat singkat itu yang dikirimnya via BBM. Entah dia mengerti atau tidak, bahwa dulu aku menjelaskan hal sama seperti itu namun dia baru mengerti sekarang maksud dari pembicaraan kala itu. Itulah maksutku, bahwa kita tidak harus langsung pacaran seketika kita menyukai seseorang yang bahkan belum kita kenal baik. Dititik inilah, aku yang sekarang berumur 22 tahun lebih suka menjalani hidupku sendiri dengan teman-teman membahagiakan diri bukan menyiksa diri beradaptasi dengan seseorang yang berujung rumit dimana pertengkaran dan saling memenangkan ego masing-masing, tidak bisa mengerti satu sama lain menjadi makanan sehari-hari.

Postingan terkait:

"Kisah Perkenalan Teman yang Tak di inginkan"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungannya, dan jangan lupa untuk meninggalkan komentar di Blog ini.
Berkomentarlah secara relevan